Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Manusia
yang paling jelek adalah yang bersifat amat kikir dan pengecut.” (HR
Ahmad dan Abu Daud).
Allah Subhanahu wata'ala memaparkan dalam QS Al Ma’aarij (70) ayat 19-21 tentang tiga sifat tercela
yang sering melekat pada manusia yaitu keluh kesah, frustrasi, dan kikir.
Sifat manusia juga cenderung angin-anginan. Allah menyebutnya sebagai
orang-orang yang “berada di tepi”.
“Dan
di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak
dengan penuh keyakinan), maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam
keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang
(kembali kafir lagi). Rugi-lah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu
adalah kerugian yang nyata.” (QS Al Hajj [22]: 11)
Manusia
memiliki sifat keluh kesah, risau, dan gundah gulana. Apabila mendapatkan ujian
dalam bentuk kejelekan seperti musibah, kesulitan, atau problematika hidup
lainnya ia berkeluh kesah dan frustrasi. Sebaliknya, apabila mendapatkan ujian
dalam bentuk kebaikan seperti nikmat kesehatan, harta kekayaan, atau posisi dan
kedudukan ia menjadi kikir, lupa daratan, dan tidak mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wata'ala, serta ingkar dengan kekuasaan Allah.
Sifat
keluh kesah dan frustrasi ini banyak melekat pada manusia, mulai dari yang
miskin papa sampai yang kaya raya, mulai dari anak-anak sampai dengan orang
tua. Seorang ibu yang frustrasi dan gamang akan masa depannya mengakhiri
hidupnya sendiri dan anak-anaknya.
Para
pegawai dan pejabat banyak yang frustrasi menghadapi akhir masa jabatannya.
Mereka khawatir menghadapi kehidupan dengan penuh kesulitan dan tidak
mendapatkan penghargaan, serta merasa kurang bermanfaat di masyarakat.
Islam
telah memberikan solusi dan antisipasi untuk mengobati penyakit keluh kesah dan
frustrasi. Dalam surat Al Ma’aarij (QS 70: 22-34)
Allah Subhanahu wata'alaT memberikan tujuh kiat menanggulangi sifat ini. Allah berpesan pada kita
untuk tetap mengerjakan shalat (ayat 22-23), mengeluarkan zakat dan mendermakan
harta kekayaannya (ayat 24-25), memercayai hari pembalasan (ayat 26), takut
terhadap azab Allah SWT (ayat 27-28), memelihara kemaluannya (ayat 29-30),
memelihara amanah dan janjinya (ayat 32), serta memberikan kesaksian secara
tepat dan benar (ayat 33).
Insya
Allah apabila umat Islam dapat melaksanakan konsep dari Allah yang dituangkan
dalam Al-Qur’an secara baik sesuai dengan aturan syariah dan dilandasi tulus
ikhlas akan mendapatkan ketenangan hidup di dunia dan di akhirat, ia akan
mendapatkan balasan berupa surga dan dimuliakan Allah Subhanahu wata'ala. aamiin..